Apakah memang ada nilai tambah dari sekolah nasional-plus?

dscn28791

 

 

Jakarta (The Jakarta Post: 01/10/06) Minat pada pendidikan di Indonesia meningkat dengan pesat dalam lima tahun terakhir ini, dan banyak sekolah di Indonesia kini mengklaim sebagai sekolah ‘nasional plus.’ Artinya memang masih belum begitu jelas bagi masyarakat umum maupun para orang tua murid, namun jelas bahwa sebutan nasional-plus ini merupakan suatu alat pemasaran yang efektif untuk menarik minat siswa baru untuk mendaftar. Banyak yang dibutuhkan untuk menjadi sebuah sekolah nasional plus, lebih dari sekedar alat pemikat yang seringkali menyesatkan.Sebagian dari masalah ini muncul karena hingga sekarang belum ada definisi resmi mengenai apa yang dimaksud dengan sekolah nasional-plus. Pemerintah sedang mengeksplorasi ide mengenai sekolah nasional plus namun belum sampai pada kesimpulan sekolah yang bagaimana yang layak untuk disebut sebagai sekolah nasional plus.

Asosiasi Sekolah Nasional-Plus (ANPS), yang didirikan pada tahun 2000, telah menghasilkan sejumlah dokumen yang menjabarkan tujuh karakteristik persyaratan untuk menjadi sebuah sekolah nasional plus. Asosiasi ini juga telah menentukan kriteria-kriteria menjadi sekolah nasional plus yang terakreditasi oleh ANPS.

Karakter-karkter dari sekolah nasional plus adalah: sekolahnya harus sudah maju, terdokumentasi, menerbitkan dan menerapkan serangkaian kebijakan yang jelas; ada pengetahuan dalam menghormati nilai nilai budaya Indonesia, perbedaan dan lingkungan alami, murid dididik dan mampu berkomunikasi baik dalam bahasa Indonesia maupun Inggris; ada suatu komitmen untuk merencanakan dan mengimplementasikan perkembangan professional staff yang berkelanjutan; sekolah mengembangkan dan menggunakanan hasil pembelajaran nasional dan internasional dalam kerangka kurikulum mereka; program-program pendidikan, metode pengajaran dan ruang praktek penilaian yang mendukung pembelajaran yang berpusat pada murid, dan  kisaran yang tepat atas sumber dan fasilitas untuk mencapai hasil pembelajaran yang dijabarkan.

Sekolah-sekolah dapat menjadi anggota dari ANPS, tetapi dalam satu tahun harus mengumpulkan dokumentasi-dokumentasi tambahan untuk kemudian bisa diakreditasi sebegai kelas A, B atau C.Ada hampir 60 sekolah yang mendaftar anggota, tetapi sejauh  ini hanya 5 sekolah yang sudah di-akreditasi sebagai kelas A di sekolah ANPS.  Sekolah-sekolah itu adalah: sekolah Tiara Bangsa-ACS (internasional) Jakarta, Sekolah Global Jaya, Sekolah Bina Nusantara, Sekolah Bogor Raya dan Sekola Ciputra (di Surabaya). Sementara, beberapa sekolah lain belum menyerahkan dokumentasi yg dipersyaratkan dan menunggu konfirmasi atau kalau tidak menunggu status mereka.

Apakah keuntungannya menjadi sekolah ANPS? ANPS menerbitkan laporan berkala setiap triwulan, punya website aktif yang menampilkan informasi pendidikan yang selalu diaktualisir, melaksanakan konferensi tahunan untuk para staf yang bekerja di taman kanak-kanak atau guru-guru di sekolah dasar atau lanjutan, menggelar pelatihan kerja (job-alike) untuk kelompok spesialis ataupun bukan spesialis  dan forum untuk para pimpinan, mengadakan tour untuk sekolah, menyelengarakan festival kesenian dan berhubungan dengan pemerintahan serta lembaga-lembaga pendidikan non pemerintah.

Suatu cara yang lebih tepat untuk menggambarkan apa yang terjadi dalam sekolah ANPS yang ter-akreditasi adalah dengan melihat bagaimana sekolah-sekolah merespon hal-hal berikut ini: 
– Apakah etos dan budaya dari sekolah ANPS?
– Tipe pembelajaran apakah yang dilaksanakan di sekolah? 
– Tipe struktur keorganisation apa yang dimiliki sekolah ANPS? 
– Kepada siapa atau apa sekolah ANPS bertanggung jawab?

Setiap sekolah menampilkan sentuhan yang berbeda, dan ini menunjukkan kepercayaan, nilai dan juga sikap mereka. Hal ini juga sering menyatakan pernyataan visi dan misi mereka dan mempengaruhi perekrutan staf dan orang-orang kunci. Sekolah ANPS mengenali pembelajaran sebagai proses seumur hidup dan itulah pusat dari tujuan sekolah itu. Jadi pembelajaran adalah penting untuk menemukan tuntutan perubahan dan untuk mengembangkan potensi dari setiap individu.

Teori baru dari pembelajaran telah muncul di dekade terakhir ini, yang membantu kita untuk memahami bagaimana melepaskan dan meningkatkan kapasitas simpanan otak. Sementara kita mempunyai 100 milyar sel otak, kita biasanya hanya memakai antara 1 sampai 5 persen saja. Otak berkembang dengan membuat koneksi dan akan berkembang pesat pada lingkungan yang multi sensorik. Mengajar strategi yg menstimulir dan mengaktifkan kapasitas cadangan dari otak menjadikan murid mampu untuk menerima level motivasi dan pekerjaan yang lebih tinggi dari pembelajaran mereka.

Hasilnya adalah bahwa para murid harus mengembangkan sikap-sikap positif dan kreatif untuk pembelajaran sehingga bisa menjadi pelajar yang mumpuni. Pada saat pelajar menjadi gemar belajar dan antusias, serta menyadari bahwa pembelajaran adalah mengasyikkan, mereka kemudian akan mampu mendorong batasan keluar dan ke atas sehingga meluaskan kreatifitas mereka.

Sekolah ANPS kemudian mengenali bahwa setiap orang mempunyai kapasitas untuk belajar dan berkembang. Tanpa kultur belajar yang melekat, murid tidak akan diperlengkapi untuk menghadapai tantangan di masa depan. Mengunjungi suatu sekolah dengan kultur pembelajaran yang nyata juga menunjukkan bahwa ada hubungan kerja yang efektif antara orang tua, guru, murid dan komunitas sekolah yang lebih luas. 
Hubungan pada umumnya didasarkan pada suatu komitmen untuk berkembang, dan itu menyokong ide dari adanya hubungan yang saling percaya dan menghargai.

Dalam kontek Indonesia, ini berarti bahwa suara orang tua kadang-kadang akan sangat keras, kuat dan kadang negatif. Kendati begitu, itulah suara kolektif yang harus didengar dan ditanggapi, terutama kalau itu bisa mengarah pada perkembangan substantif di sekolah. 
Keterlibatan orang tua dapat terwujud dalam sejumlah hal, antara lain adalah pengumpulan relasi dan dana, dua hal yang penting bagi sekolah. Hubungan dengan orang tua haruslah autentik, kontinyu dan realistik dan ini akan sangat beragam dari sekolah satu dengan sekolah lain. Yang jelas, adalah, bahwa suara para orang tua didengar dan perhatian yang tulus selalu diberikan secepatnya.

Struktur organisasi dari setiap sekolah juga berbeda, karena setiap sekolah diatur oleh sebuah yayasan yang menerapkan visi dan misi khusus bagi sekolah. Bagaimana itu semua diintrepretasikan dan diimplementasikan oleh kepala sekolah dan pimpinan sekolah akan sangat tergantung pada nilai dan pengharapan dari komunits sekolah yang lebih luas.

Pada umumnya, model birokrasi kepemimpinan dari atas ke bawah dihindari dan perjalanan kepemimpinan dibagi oleh beberapa orang. Pada suatu forum kepemimpinan di Bali, Brian Cox dari sekolah Pelita Harapan baru baru ini meringkas pendekatan ini dengan menekankan bahwa pimpinan efektif “Jangan beri tahu orang bagimana mencapai tujuan; (itu) menjadi batasan dalam hal mana mereka secara kreatif bisa terpenuhi.”  Panitia eksekutifnya adalah sukarelawan dari sekolah-sekolah anggota yang terdiri dari 13 kepala sekolah dan pemilik yang bertanggung jawab mengatur aktifitas ANPS.

Adapun kegiatan yang direncakan untuk tahun akademik ini termasuk: 3 konferensi guru yang meliputi pendidikan taman kanak-kanak, sekolah dasar dan lanjutan, tiga sesi pembicaraan untuk isu-isu di bidang pendidikan; 2 festival kesenian untuk murid, 10 sesi pelatihan dan di tahun 2007 ada trip kepemimpinan ke beberapa sekolah independen yang terkemuda di Australia.

Hubungan dengan orang orang pemerintahan dan dari deparment yang penting juga di jaga, sehingga ANPS bisa terus mengikuti perkembangan dan dapat informasi terkini dari sikap, kebijakan dan permintaan pemerintah. Hubungan dengan badan-badan lain yang memberikan pengembangan profesional bagi guru di ANPS juga kuat. Sebagai contoh, Teachers Institute dan the School Quality Improvement Program (SQIP) yang dijalankan oleh Sampoerna Foundation, akan menggunakan sejumlah nara sumber dari ANPS dan sekolah-sekolahnya untuk berpartisipasi dalam konferensi dan sekolah-sekolahnya.

Inilah realitasnya bahwa sekolah berada dalam posisi kritis serta bertanggung jawab pada para pemangku kepentingan. Ada penambahan tekanan dari orang tua, sebagai contoh, mendapatkan nilai untuk uang, nilai test, benchmarking, program bahasa China, penggunaan bahasa Inggris di luar kelas, perkembangan dari tahun ke tahun, dan penambahan pilihan program esxtra-kurikuler.

Secara signifikan, isu yang semakin komplek dan menuntut kini menghadang para pendidik, baik secara operasional ataupun strategi dalam menerapkan reformasi yang akan menaikkan kualitas dari pembelajaran di sekolah. Asosiasi dari sekolah plus nasional mendukung pandangan bahwa orang-orang muda akan menjadi pelajar yang efektif, efisien, flesible dan kreatif ketika kepemipinan yang ber-sentral pada murid didukung dan diterapkan. 
Pada pertengahan bulan September, lebih dari 150 pimpinan sekolah dari sekolah ANPS bertemu di Bali untuk pertemuan forum kepemimpinan. Fokusnya adalah “kepemipinan dalam praktek” dan itu menjadi jelas bahwa ada pendidik-pendidik yang brilian di sekolah kita yang mengembangkan program dari kualitas akademik dan kekakuan internasional. Ini adalah bukti bahwa mereka berbagi kepercayaan bahwa sebagai pimpinan sekolah di Indonesia mereka punya kewajiban untuk mengembangkan sekolah mereka dan mentransformasi sekolah mereka menajdi komunitass pembelajaran yang efektif.

Pemerintah tidak dikenal dalam pengambilan resiko yang diperhitungkan.  Dengan sensitifitas pada budaya imperatif  yang begitu kentara dalam pendidikan di Indonesia, pimpinan dari sekolah-sekolah ANPS telah menerima tantangan untuk bekerja bersama-sama dan mengambil resiko dari peng-internasionalisasi-an sekolah mereka dan membuat lingkungan pembelajaran yang menggairahkan dan kreatif. Jelasnya bahwa sungguh ada nilai plus sebagai sekolah nasional plus, tapi akan ada lagi nilai plus plus dengan menjadi sekolah ANPS yang aktif dan terakreditasi.
 
Penulis adalah kepala dari Asosiasi Sekolah Nasional Plus dan Direktur Eksekutif dari Sekolah Tiara Bangsa – ACS (Internasional) Jakarta.

 

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

  • EBOOK GRATIS
  • Visit www.batamdigitalisland.com - Bersama menjadikan Batam Digital Island.